Meminjam kata-kata Menkeu Jepang Taro Aso, kondisi Dolar saat ini bisa dibilang memprihatinkan. Sebagaimana bisa dilihat pada data Commitment of Trader rilisan CFTC akhir pekan lalu, posisi Dolar secara keseluruhan kembali bearish untuk pekan kedua berturut-turut (-$4.19 milyar), menempatkan mata uang Paman Sam ini dalam posisi paling bearish sejak Mei 2014. Bukan cuma posisi bullish pada mata uang-mata uang mayor lain meningkat, bahkan kontrak pada komoditas seperti minyak, emas, dan perak pun mengalami peningkatan jumlah pembeli. Nah, dengan publikasi data NFP yang dijadwalkan Jumat depan, apakah Dolar punya harapan untuk comeback?

Masalah Utama Dolar
Indeks spot Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang lain telah anjlok 6.5% sejak awal Februari, terutama disebabkan oleh perubahan outlook kebijakan moneter the Fed. Sebagaimana diketahui, di akhir 2015 FOMC sempat memproyeksikan 4 kali kenaikan suku bunga dalam tahun 2016, tetapi proyeksi tersebut langsung diingkari begitu tahun berganti. Layaknya perubahan suasana hati yang bisa membuat sepasang kekasih bercerai, demikian pula sentimen investor yang berbalik 180 derajat terhadap Dolar.

Angka GDP Amerika Serikat Kuartal I/2016 yang dirilis hari Kamis makin menekankan kesan di mata investor bahwa FED akan bertindak lebih hati-hati tahun ini. Menaikkan suku bunga hingga empat kali sudah jelas tidak mungkin. Dua kali pun belum tentu. Pasalnya, jelas sekali inflasi mandeg gara-gara masyarakat enggan berbelanja. Pada Jumat malam contohnya, data personal spending bulan Maret menurun ke 0.1% MoM dari sebelumnya 0.2%, padahal personal income naik ke 0.4% MoM dari 0.1%.

Dalam hal ini, kenaikan suku bunga tahun lalu bisa jadi merupakan bumerang. Kenaikan gaji sebagaimana digadang-gadang oleh para pejabat teras FED sudah jelas terjadi. Masalahnya, dengan suku bunga meningkat (biarpun sedikit), orang-orang jadi lebih memilih untuk menyimpan uang tunai di bank daripada pergi shopping. Kenapa? karena masyarakat masih khawatir kalau-kalau ekonomi bakal memburuk. Ini mungkin ada hubungannya dengan pemilu presiden yang akan datang, tetapi tak terelakkan lagi bahwa dengan inflasi yang “antara ada dan tiada”, maka kemungkinannya kecil bagi FED untuk menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat (baca: Juni). Apalagi, selama duit masyarakat nyangkut di tabungan saja, maka pertumbuhan akan sulit digenjot.

Jadi, inti masalah yang membebani Dolar sekarang ada dua:

Outlook kebijakan FED yang lebih dovish dibanding ekspektasi pasca kenaikan suku bunga Desember 2015.
Keyakinan masyarakat rendah.
Sayangnya, dua masalah itu tidak bisa diselesaikan oleh NFP saja.

Dalam Posisi Kritis?
Hussein Sayed dari FXTM menyampaikan dalam catatannya kemarin bahwa sekedar NFP diatas 200k saja tidak cukup untuk memicu Dolar berbalik arah. Lebih lanjut, “Kecuali kita melihat peningkatan signifikan dalam data pasar tenaga kerja AS, seperti peningkatan ketenagakerjaan lebih dari 250k, atau rerata pendapatan per jam naik sebanyak 0.5%, atau tingkat pengangguran jatuh ke 4.8%, Dolar kemungkinan tidak akan berubah haluan, karena para investor terus mengantisipasi bahwa Fed tidak akan bertindak pada rapat berikutnya di bulan Juni.”

Sayed merujuk pada data CME FedWatch yang menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga bulan Juni pada 10% dan beberapa pidato pejabat FED dalam sepekan mendatang yang kemungkinan bakal berusaha melepas diri dari komitmen mereka akan dua kali rate hike tahun ini. Yang akan membentuk pergerakan Dolar AS, menurutnya, adalah apakah pasar akan menyesuaikan ekspektasi mereka, atau justru mengabaikan FED. Indeks Dolar berada pada posisi kritis dimana para banteng bisa mencari peluang untuk buy Dollar, tetapi juga mendekati level dimana para trader bearish bisa menyerang lagi dalam jangka pendek.

Kathy Lien dari BK Asset Management jauh lebih pesimis. Menurutnya, kemungkinan FED menaikkan suku bunga bulan Juni itu nyaris nol. Ia mencatat, “Kecuali saham menanjak ke rekor level tinggi, dua laporan payroll berikutnya naik 275k atau lebih, rerata pendapatan per jam meningkat secara konsisten, DAN consumer spending melebihi 0.5% pada bulan April dan Mei, mereka (The FED) tidak akan menaikkan suku bunga hingga paling dini September.”

Lien meyakini bahwa data ekonomi yang positif bisa membantu Dolar, tetapi takkan cukup untuk merubah arah greenback maupun sentimen pelaku pasar. Satu-satunya yang bermakna adalah ekspektasi. Dolar bisa terus berada dalam tekanan selama para investor belum yakin kalau bank sentral AS (dan bank-bank sentral lainnya yang saat ini menahan kebijakan) bakal melanjutkan langkah-langkah mereka sesuai harapan.

c_sf_113006_TM1462163312_US-Dollar-Non-Farm-Payrolls Apakah NFP Minggu Ini Akan Selamatkan Dolar?