Setelah berlalunya beberapa event penting yang diuraikan dalam Analisa Rupiah Maret 2016 sebelumnya, nampak ada perubahan fundamental yang cukup signifikan untuk jangka pendek, baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Berikut ini beberapa diantaranya yang perlu dicatat:

1. Bank Sentral Eropa mematok suku bunga negatif dan menambah stimulus moneter.
European Central Bank (ECB) mengumumkan sepaket pelonggaran moneter pada Kamis malam (10/3) dengan memangkas suku bunga dan memperluas skala pembelian obligasi. Meskipun kebijakan tersebut disusul oleh komentar beragam dari para pejabat terasnya, tetapi berlanjutnya program “easy money” ECB merupakan kabar baik bagi negara-negara berkembang, karena kelebihan likuiditas di pasar internasional biasanya berimbas pada meningkatnya minat risiko dan lancarnya aliran dana masuk.

2. Federal Reserve tak mengubah suku bunga dan mengurangi ekspektasi kenaikan dalam tahun 2016.
Keputusan lembaga yang berperan sebagai bank sentral Amerika Serikat ini juga cenderung bagus bagi mata uang negara-negara berkembang, karena bisa membendung penguatan Dolar AS terhadap mata uang lainnya, selain juga menahan arus balik modal asing yang ada di Indonesia ke luar negeri.

3. Bank Indonesia memangkas suku bunga.
Kabar yang satu ini tak begitu bagus bagi nilai tukar, mengingat secara teori, suku bunga yang lebih tinggi berkorespondensi dengan nilai tukar yang lebih kuat. Namun demikian, pengumuman pemangkasan suku bunga oleh BI tanggal 17 Maret disambut hangat, terutama oleh dunia usaha, karena tingkat suku bunga Indonesia yang sebelumnya kelewat tinggi dituding sebagai salah satu penyebab lambatnya ekspansi bisnis dan pertumbuhan ekonomi. Diharapkan, apabila penurunan bunga acuan diikuti oleh penurunan bunga pinjaman, maka nantinya akan berimbas positif bagi pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Sehubungan dengan perubahan-perubahan tersebut, nampak pula perubahan pada Rupiah. Kurs Rupiah terhadap Dolar AS sempat menyentuh 13,000 pada tanggal 14 Maret, kemudian sempat melemah dan balik lagi hingga membentur 12,990 pada akhir pekan kemarin, lalu bergerak melemah sejak awal pekan ini. Berdasarkan rangkaian kejadian itu, juga posisi beberapa garis MA dan MACD, maka dapat disimpulkan bahwa Rupiah saat ini memasuki fase koreksi.

Chart USD/IDR pada timeframe Daily dengan indikator EMA-20 (merah), EMA-60 (tosca), EMA-100 (coklat), fibonacci retracement, dan MACD (klik gambar untuk memperbesar)

Sebagaimana bisa dilihat, pergerakan kurs Rupiah terhadap Dolar AS hingga awal April kemungkinan akan berada dalam kisaran antara 12,990-13,260, dengan kecenderungan ranging.

Dari sini, bila Rupiah mampu berbalik menguat lagi hingga menembus level 12,990, maka akan membuka jalan menuju garis EMA 100 pada 12,875an. Namun, ada dua hal yang perlu diingat:

Sebagian besar dana asing yang masuk ke Indonesia saat ini masih terparkir di aset pasar finansial. Sebagai hot money, dana-dana tersebut mudah masuk dan mudah keluar, tergantung pada kondisi, padahal arus dana semacam itu bisa memicu penguatan maupun pelemahan Rupiah dalam waktu singkat.
Kondisi fundamental Indonesia sekarang dan fakta bahwa sebagian impor merupakan barang modal, berarti bahwa jika penguatan Rupiah berlanjut sampai melampaui keseimbangan fundamental, nantinya malah bisa jadi bumerang bagi kondisi makro.
Berdasarkan dua pertimbangan tersebut, maka arah pergerakan Rupiah selanjutnya lebih mungkin melemah (grafik USD/IDR keatas menuju 13,260) daripada menguat (grafik USD/IDR ke bawah), atau dengan kata lain ada bias bearish. Meskipun seperti biasa, kejutan di pasar finansial selalu mungkin terjadi.

c_sf_134540_TM1458715533_20160323usdidr Analisa Rupiah Maret 2016 (Update)