in Fundamental by yeremia
Rekap Fundamental 24 Maret-5 April 2016
Sejalan dengan indikasi teknikal dan fundamental, di akhir Maret kurs Rupiah melemah hingga menyentuh garis fibo 38.2% pada 13,427. Setelah itu, kurs Rupiah bergerak menguat kembali masuk ke kisaran 12,990-13,260 per Dolar AS.

Isu-isu ekonomi global masih terus mempengaruhi nilai tukar Rupiah, khususnya seputar proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve. Ketua bank sentral Amerika Serikat tersebut pekan lalu melontarkan komentar yang menyusutkan kemungkinan kenaikan bunga, dianggap negatif, dan berdampak pada pelemahan Dolar hingga hari ini. Imbasnya, selain memberikan kesempatan bagi mata uang-mata uang mayor lain untuk menguat, aliran hot money juga tetap bertahan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Apalagi, kebijakan moneter longgar yang diterapkan oleh banyak negara maju lainnya menunjang minat risiko investor.

Sementara itu, di awal April ini sejumlah indikator ekonomi Indonesia yang telah dirilis menunjukkan perbaikan kondisi perekonomian, yang kemungkinan didorong oleh turunnya tingkat suku bunga dan penguatan kurs.

1. Inflasi Terkendali
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi dalam bulan Maret 2016 naik 0.19% (MoM), meskipun stagnan pada 4.45% jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (YoY). Di sisi lain, inflasi inti menurun tipis dari 3.59% bulan Februari menjadi 3.5%. Profil data inflasi ini menampilkan laju inflasi yang cenderung terkendali.

2. Manufaktur Ekspansi
Iklim bisnis manufaktur yang berada di bawah tekanan sejak September 2014 akhirnya bangkit. Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur hasil survei Nikkei/Markit melejit ke 50.6 awal bulan ini, dari 48.7 di bulan sebelumnya. Ini merupakan pertama kalinya dalam lebih dari setahun indeks melangkah di atas ambang 50, yang berarti iklim bisnis telah berubah dari kontraksi menjadi ekspansif.

Menurut Pollyanna De Lima, ekonom dari lembaga riset Markit, ekspansi produksi digenjot oleh peningkatan permintaan domestik yang mampu mengimbangi kemerosotan ekspor. Selain itu, komponen ketenagakerjaan yang sempat dilanda pemutusan hubungan kerja selama lebih dari setahun kini mulai terstabilisasi.

Ke depan, tekanan inflasi dalam bulan April diperkirakan berkurang sehubungan dengan dipangkasnya harga BBM. Pemangkasan harga BBM juga berpeluang meningkatkan permintaan domestik karena meningkatnya anggaran rumah tangga setelah alokasi pengeluaran untuk BBM turun. Pada gilirannya, ini diharapkan dapat menunjang ekspansi bisnis secara berkelanjutan yang meskipun tidak berdampak langsung terhadap nilai tukar Rupiah, tetapi merefleksikan kondisi perekonomian yang mendasarinya.

Fundamental Kurs Rupiah Ke Depan
Sejumlah event dari dalam dan luar negeri perlu diamati dalam satu bulan ke depan.

1. Dalam Negeri
BPS akan merilis data ekspor impor (neraca dagang) pada tanggal 15 April mendatang. Ekspor dan Impor Indonesia terekam dalam tren menurun sejak tahun 2014, dan sepertinya belum ada tanda-tanda pemulihan yang cukup mantap.

Bank Indonesia akan menggelar Rapat Dewan Gubernur yang salah satu agendanya adalah membicarakan tentang suku bunga acuan BI Rate. BI telah memangkas BI Rate sebanyak 75 basis poin dalam tiga rapat terakhirnya pada Januari, Februari, dan Maret, sehingga menyisakan suku bunga acuan sebesar 6.75% saja. Namun demikian, pemotongan suku bunga acuan tersebut belum sepenuhnya terefleksikan dalam suku bunga yang berlaku di bank-bank umum Indonesia. Dalam rapat berikutnya tanggal 20-21 April, BI kemungkinan akan membiarkan suku bunga tetap pada 6.75% sembari menunggu hingga pengaruh pemangkasan kemarin meluas.

2. Luar Negeri
Di waktu yang kurang lebih sama dengan BI, European Central Bank (ECB) juga akan menggelar rapat kebijakan moneter mereka. Meskipun pelaku pasar tidak mengantisipasi adanya perubahan besar pada momen tersebut, tetapi apabila ada indikasi bahwa ECB akan memperluas skala pelonggaran moneternya, maka itu bisa menjadi sinyal positif bagi pasar negara berkembang.

Sepekan kemudian, giliran Federal Reserve selaku bank sentral AS mengadakan rapat kebijakan moneternya (FOMC). Diperkirakan mereka takkan menaikkan suku bunganya dalam kesempatan tersebut, tetapi bisa jadi akan dilontarkan pernyataan yang berpotensi menimbulkan gejolak dalam jangka pendek. Secara umum, nilai tukar Rupiah masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan Dolar, sehingga momen ini patut diamati.

c_sf_104501_262541_inflasi-indonesia Analisa Rupiah April 2016