[sdf_hero id=”sdf-row-1″ last=”yes”][sdf_col id=”sdf-col-1″ width=”1/1″][sdf_image id=”sdf-element-0″ module_width=”1/1″ title=”” alt_text=”” image=”https://www.ifx.web.id/wp-content/uploads/0.jpg” top_margin=”” bottom_margin=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” image_alignment=”left” image_size=”sdf-image-md-12″ image_shape=”square” lightbox=”no” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””][/sdf_image][sdf_text_block id=”sdf-element-1″ module_width=”1/1″ top_margin=”” bottom_margin=”” text_alignment=”left” font_family=”” font_size=”” text_color=”” entrance_animation=”No” entrance_animation_duration=”” link=”” link_title=”” target=”” nofollow=”no” class=””]Harga minyak merosot di perdagangan Asia pada Senin pagi karena meningkatnya produksi di Timur Tengah melebihi output AS yang sedang menurun juga dengan depresiasi dolar baru-baru ini yang sebelumnya mendukung minyak mentah. Brent berjangka diperdagangkan pada $47,05 per barel pada Senin pagi, turun 32 sen dari settlement terakhir. Minyak mentah AS turun 28 sen ke $45,64 per barel.

Dolar yang lebih lemah tetap gagal untuk menggairahkan investor di pasar minyak mentah. Dolar telah jatuh lebih dari 6 persen tahun ini terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Bank Perancis BNP Paribas menilai bahwa reli minyak baru-baru, dengan lompatan harga hampr 30%, hanya didorong oleh sentimen sesaat dan tidak memiliki dasar-dasar fundamental yang kokoh. Kondisi seperti ini memiliki downside risk yang besar yang suatu saat dapat terjadi dan menyeret harga turun dengan cepat.

Fatih Birol, salah satu pejabat eksekutif International Energy Agency (IEA), berpendapat harga minyak mungkin sudah mencapai dasar dan dapat bergerak ke atas jika kondisi normal tetap terjaga. Dia berharap kondisi normal dapat terus terjadi hingga akhir tahun ini.

Sementara itu harga emas dan perak juga melonjak di sesi akhir April. Emas melonjak ke level tertinggi sejak awal 2015 karena investor mencari tempat berlindung di aset safe-haven, di tengah sell-off yang menerpa pasar ekuitas global dan data belanja konsumen AS yang suram hingga mengirim dolar anjlok ke posisi terendah dalam sembilan bulan.

Di divisi Comex New York Mercantile Exchange, emas untuk pengiriman Juni diperdagangkan antara $1.267,00 dan $1.298,95 per ounce sebelum ditutup di $1.293,15, naik $26,75 atau 2,11% pada sesi. Pada sesi tersebut, emas sempat menguji ambang batas $1.300. Harga emas menutup April dengan lima sesi positif berurutan, mengakhiri bulan April dengan naik lebih dari $50 per ounce. Logam mulia ini telah melonjak sekitar 22% sejak awal tahun ini dan pada kecepatan yang terkuat dalam beberapa dasawarsa.

Emas terus naik setelah terjadi penurunan tajam pada di Wall Street dan bursa saham China. Juga pada hari Jumat, Bank Rakyat China (PBOC) mengejutkan pasar dengan membuat yuan naik 0,56% lebih tinggi terhadap dolar, terkuat dalam satu hari sejak tahun 2005. Langkah PBOC itu muncul setelah dua pertemuan bank sentral yaitu Federal Reserve dan Bank of Japan yang keduanya tetap mempertahankan suku bunga acuan mereka.

Pekan ini menjadi waktu yang penting bagi trend naik harga komoditas dengan hadirnya sejumlah data ekonomi penting baik dari Asia, Eropa maupun Amerika. Isu utama tetap terletak pada tingkat suku bunga Fed, ECB dan BoJ serta perkembangan ekonomi China dan global. Sebagai salah satu produsen dan konsumen terbesar komoditas, data-data manufaktur China di pekan ini harus tetap dicermati. Demikian pula dengan data ketenagakerjaan AS dan setiap komentar dari pejabat ketiga bank sentral tersebut.[/sdf_text_block][/sdf_col][/sdf_hero]


Tinggalkan Balasan