in Berita Pasar by heri
0 Analisa Komprehensif Komoditas, 18 April 2016
Emas dan Perak masih dalam fase koreksi

Pada perdagangan di pasar Asia ini harga emas masih dalam fase koreksi setelah pada
akhir pekan lalu berhasil ditutup menguat. Rally emas sebelumnya dipicu oleh pelemahan mata
uang dolar Amerika terhadap major currencies lainnya merespon hasil mengecewakan dari data
consumer sentiment dan industri produksi Amerika.

-Spekulasi kebijakan The Fed tetap membayangi tren emas

Proyeksi kebijakan moneter Amerika masih menjadi fokus para investor dalam menentukan tren
emas, semakin dekatnya rapat federal reserrve AS pada akhir bulan ini akan semakin meningkatkan
kewaspadaan para pelaku pasar. Rumor terakhir yang tengah berkembang adalah kemungkinan
ditundanya perubahan suku bunga The Fed hingga pertengahan tahun ini mengingat situasi ekonomi global serta perekonomian Amerika sendiri belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi persis dengan apa yang telah disampaikan oleh pimpinan The Fed Janet Yellen.

-Gagalnya kesepakatan di Doha memicu minyak tergelincir

Harga minyak dunia kembali tertekan menyusul hasil pertemuan di Doha, Qatar dimana negara-
negara yang tergabung dalam OPEC plus Rusia telah berusaha mencapai kesepakatan guna
menstabilkan harga minyak dunia. Namun permintaan dari Saudi Arabia sebagai produsen utama
minyak global terhadap Iran supaya turut serta berpartisipasi dalam forum tersebut telah gagal
dicapai. Dalam hal ini unsur politis antara rivalitas Saudi Arabia dan Iran nampaknya masih
akan menyulitkan tercapainya kesepekatan anatar para produsen minyak utama dunia.

-Emas bisa bangkit kembali sedangkan minyak sulit keluar dari tekanan

Untuk pergerakan hari ini kami memperkirakan emas dan perak berpeluang kembali menguat seiring terkoreksinya mata uang dolar AS ditengah keraguan akan perubahan keijakan suku bunga Fdederal Reserve Amerika yang akan melakukan pertemuan pada akhir bulan ini. Sinyal dari Janet Yellen cukup jelas jika dikaitkan dengan fundamental ekonomi AS akhir-akhir ini serta situasi
pelambatan ekonomi global. Sedangkan harga minyak dunia rentan tertekan kembali karena pengaruh dominan over supply ditengah belum adanya kesepakatan mutlak diantara negara-negara produsen minyak utama dunia.