Harga minyak melandai dalam perdagangan hari Senin ini (25/4) akibat aksi profit-taking trader yang berupaya untuk memanen untung dari reli pekan lalu. Minyak mentah AS untuk pengiriman Juni di New York Mercantile Exchange melorot sekitar 1.5% ke $43 per barel, sedangkan harga acuan Brent tergelincir ke $44.45 di bursa ICE.

Para analis yang diwawancarai oleh Reuters memandang peningkatan harga di beberapa hari perdagangan sebelumnya memancing aksi profit-taking, terutama karena fundamental minyak pada dasarnya dinilai masih bearish.

Pemogokan karyawan industri minyak di Kuwait yang memprotes perubahan sistem penggajian pekan lalu sempat mendorong harga minyak meninggi setelah gagalnya perundingan antar negara-negara eksportir minyak tentang rencana pembekuan output di Doha. Fundamental harga minyak kembali memburuk seiring menipisnya harapan akan tercapainya kesepakatan diantara negara-negara tersebut yang bisa menyeimbangkan surplus pasokan di pasar minyak.

Meski demikian, International Energy Agency baru-baru ini menyebutkan bahwa mereka memperkirakan surplus pasokan di pasar minyak akan mulai terseimbangkan tahun depan, apabila tidak terjadi perlambatan ekonomi yang tajam. Selain itu, OPEC diharapkan akan kembali mendiskusikan topik pembatasan output produksi pada rapat berikutnya di bulan Juni 2016.

Sejumlah indikasi lain pun menampakkan secercah harapan. Pada hari Jumat dari Amerika Serikat diberitakan bahwa hitungan Baker Hughes akan sumur pengeboran minyak turun lagi dari 351 ke 343, angka terendahnya sejak November 2009. Padahal, setahun yang lalu jumlahnya berada lebih dari 700. Kabar tersebut memperkuat proyeksi penurunan produksi minyak AS setelah data persediaan minyak mentah di negeri tersebut pada Rabu lalu dilaporkan meningkat lebih rendah dari ekspektasi.

c_sf_165753_TM1461578266_offshore-oil-rig Aksi Take Profit Dorong Harga Minyak Melandai