in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak melonjak lebih dari tiga persen pada hari Selasa setelah pemogokan kerja memaksa Kuwait untuk memangkas nyaris setengah produksi minyak mentahnya. Aksi mogok yang telah berlangsung selama tiga hari ini meredam pengaruh bearish dari gagalnya pertemuan Doha tanggal 17 April lalu untuk membekukan level output minyak negara-negara produsen terkemuka.

Musim “Maintenance”
Reformasi sistem penggajian di perusahaan negara pengelola minyak mentah Kuwait diprotes oleh ribuan pekerjanya, hingga pihak berwenang terpaksa mengurangi output produksi harian. Menurut berita terbaru dari Reuters yang mengutip kantor berita Kuwait KUNA, output minyak mentah salah satu negeri di kawasan Timur Tengah tersebut menyusut sebanyak 1.5 juta bph, lebih dari separuh angka output total Kuwait bulan Maret yang sebesar 2.8 juta bph.

Juru bicara para pekerja migas Kuwait menyatakan pada hari Selasa kemarin bahwa aksi mogok mereka akan berlanjut hingga pemerintah membatalkan rencana reformasi sistem penggajian tenaga kerja sektor publik.

Di samping kabar itu, ada pula laporan terputusnya aliran listrik mengakibatkan penurunan output sebanyak 200,000 bph di Venezuela serta kebakaran yang diperkirakan telah memaksa Nigeria memangkas 400,000 bph dari aktivitas produksinya. Bersama dengan tibanya musim “maintenance” bagi pabrik-pabrik pengilangan, faktor-faktor tersebut ditengarai mendukung prospek bullish harga minyak untuk saat ini.

Bisa Balik Fokus Ke Surplus
Harga acuan internasional Brent kemarin (19/4) ditutup naik lebih dari satu dolar ke $44.03, sedangkan minyak mentah AS menanjak lebih banyak dengan ditutup di level harga $41.08 per barel.

Namun demikian, analis menilai pengaruh gejolak di Kuwait tersebut terhadap minyak akan cukup singkat, dan harga bisa tertekan kembali karena kondisi surplus pasokan di pasar masih belum terselesaikan. Apalagi, kegagalan pertemuan Doha malah justru bisa mendorong negara-negara terkait untuk menyingsingkan lengan dan kembali menggenjot aktivitas produksi mereka. Dalam hal ini, Rusia dan Arab Saudi telah mengisyaratkan niat mereka untuk memompa output minyak mentahnya lagi.

Sementara itu, data persediaan minyak Amerika Serikat yang baru saja diterbitkan American Petroleum Institute (API) dini hari ini (20/4) menunjukkan kenaikan 3.1 juta barel dalam sepekan lalu, naik dari 6.2 juta barel di periode sebelumnya. Belum banyak reaksi yang ditunjukkan pelaku pasar sesaat setelah data dipublikasikan. Ke depan, pasar akan menantikan data terkait topik yang sama versi EIA, dipublikasikan Rabu malam.

c_sf_041320_263143_KuwaitMap Aksi Mogok Kuwait Ditengarai Takkan Lama Sangga Harga Minyak