35IHSG2 Aksi Jual Masih Dominan, IHSG Dibuka Melemah
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan pagi ini. Membuka perdagangan preopening, IHSG turun 5,94 poin (0,12%) ke 4.850,170. Mengawali perdagangan, Rabu (23/3), IHSG dibuka melemah 16,827 poin (0,36%) ke 4.898,613.

Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 29,056 poin (0,59%) ke 4.856,107. Sementara indeks LQ45 ditutup turun 6,962 poin (0,82%) ke 845.627. Sementara di pasar uang, dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah terhadap rupiah. Berdasarkan data perdagangan Reuters, dolar AS pagi ini dibuka di Rp 13.136, dibandingkan posisi sore kemarin di Rp 13.171.

Sedangkan kondisi bursa saham Asia pagi ini, antara lain: Indeks Nikkei 225 naik 22,44 poin (0,13%) ke 17.070,99, Indeks Hang Seng naik 4,72 poin (0,02%) ke 20.671,47, Indeks SSE Composite turun 5,77 poin (0,19%) ke 2.993,60, dan Indeks Straits Times naik 5,00 poin (0,17%) ke 2.884,22.

Perekonomian Indonesia sejauh ini masih sangat tergantung pada ekspor komoditas primer. Dengan begitu, kenaikan harga di pasar internasional tentu bisa menguntungkan bagi Indonesia yang selama ini mengalami problem defisit transaksi berjalan yang hanya bisa diatasi dengan menaikkan ekspor.

Kenaikan harga minyak mentah diikuti oleh kenaikan harga komoditas lain. Harga minyak yang sempat berada di titik terendah US$ 24 per barel, saat ini mencapai US$ 40 per barel. Hal itu di antaranya diikuti dengan naiknya harga timah dari US$ 14 ribu per mt menjadi US$ 16 ribu per mt. Kenaikan harga itu bisa jadi karena meningkatnya permintaan seiring dengan membaiknya perekonomian dunia. Penentu harga komoditas adalah pertumbuhan ekonomi dunia. Saat ini perekonomian AS positif dan mulai menguat, tapi Eropa masih jalan di tempat dan Jepang masih belum meyakinkan. Namun kalau harga komoditas primer membaik berarti itu sinyal positif adanya perbaikan ekonomi dunia.