Harga minyak mentah tergelincir lagi untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Senin pagi (21/3), terguling dari posisi level harga tertinggi tahun ini yang tercapai Kamis lalu. Data rilisan Baker Hughes pada hari Jumat membangkitkan kembali kekhawatiran karena jumlah sumur pengeboran (rig count) di Amerika Serikat naik untuk pertama kalinya sejak Desember.

Sumur pengeboran yang dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan energi AS pekan lalu bertambah satu, setelah selama 12 pekan berurutan merosot. Total rig count sekarang berada pada angka 387. Selain itu, reli harga sejak Februari telah menstabilkan penurunan aktivitas pengeboran minyak mentah.

Harga minyak mentah AS (CLc1) jatuh 55 sen, atau 1.4 persen, ke kisaran $39 per barel sebelum beranjak tipis ke $41.20an. Sementara itu, harga minyak Brent (LCOc1) sempat memuncak ke $42.54, tetapi kemudian selip 33 sen ke $40.87. Saat berita ini diangkat, Brent berada pada kisaran $41.02, sedangkan acuan minyak AS di kisaran $40.78.

Oversupply minyak global telah menjorokkan harga minyak mentah dari puncak tertingginya diatas $100 per barel pada pertengahan 2014 ke $27 (Brent) dan $26 (minyak AS). Kombinasi penurunan output, perlambatan peningkatan persediaan, dan naiknya konsumsi gasolin telah mendukung pemulihan harga minyak baru-baru ini. Apalagi, sejumlah negara OPEC tengah gencar mengopinikan pembatasan produksi. Namun demikian, pada titik ini, para pelaku pasar nampaknya membutuhkan lebih banyak konfirmasi. Kenaikan hitungan sumur pengeboran AS kali ini pun, seakan mewujudkan ketakutan sebelumnya dimana kenaikan harga minyak dikhawatirkan malah mendorong produsen untuk mengaktifkan kembali proyek-proyek yang mangkrak.

Sementara itu, laporan Commitment of Traders CFTC yang juga diluncurkan hari Jumat lagi-lagi menunjukkan bahwa para pemain pasar kembali meningkatkan taruhan bullish-nya pada minyak mentah AS. Posisi long pada komoditas berjangka ini dalam pekan yang berakhir tanggal 15 Maret telah mencapai level tertinggi lima bulan.

sf_105357_261927_oil-price-ilust Akhir Pekan, Harga Minyak Dijorokkan Oleh Data Sumur Pengeboran