in Berita Pasar by yeremia
Harga minyak diperdagangkan sideways nyaris flat diatas $40 per barel sejak sesi perdagangan Asia kemarin hingga hari Selasa ini (12/4). Harga minyak mintah berjangka WTI diperdagangkan pada $40.27, sedangkan Brent di sekitar $42.70 per barel. Sementara itu, menjelang pertemuan negara-negara produsen minyak terkemuka tanggal 17 April mendatang di Doha, Qatar, mayoritas analis memperingatkan adanya bahaya “kejutan bearish” apabila gagal dicapai kesepakatan yang bisa secara efektif menghentikan pembengkakan surplus.

Para produsen minyak terbesar dunia dari OPEC dan Non-OPEC, dengan pengecualian Amerika Serikat, direncanakan akan berapat di ibukota Qatar, Doha, pada hari Minggu depan. Agenda utamanya adalah mendiskusikan langkah-langkah guna mengendalikan surplus suplai minyak mentah yang kini telah mencapai sekitar 2 juta bph lebih tinggi dari permintaan dan mengakibatkan tangki-tangki penyimpanan di seluruh dunia dipenuhi oleh bahan bakar tak terpakai dan tak terjual.

Dikhawatirkan Harga Minyak Turun Lagi
Kebanyakan analis yang diwawancarai Reuters menyatakan bahwa mereka memperkirakan para produsen minyak akan membekukan output di sekitar level output saat ini, yang mana berada pada rekor level tinggi dan jauh melebihi konsumsi bahan bakar, sehingga tidak akan berdampak signifikan dalam memecahkan masalah limpahan suplai.

Ric Spooner dari CMC Markets di Sydney mengatakan, “Risiko potensial bagi harga (minyak) adalah ke arah bawah karena pembekuan output pada tingkatannya saat ini akan lebih menjadi langkah simbolis ketimbang intervensi pasar sungguhan. Namun, Anda perlu mempertimbangkan pula kemungkinan adanya kejutan di pasar ini.”

Hal senada disampaikan oleh analis dari Goldman Sachs pada media Inggris Telegraph. Salah satu bank terbesar di Dunia tersebut cenderung pesimis akan tercapainya sebuah kesepakatan yang siginifikan, dan malah mengatakan, “Kami melihat kemungkinan yang lebih besar kalau pertemuan Doha (akan) menyediakan katalis pergerakan bearish untuk harga minyak.”

Jangka Panjang Pasti Terstabilisasi
Namun demikian, meski Spooner meyakini pembekuan produksi tidak akan serta merta memecahkan masalah surplus suplai, ia menegaskan bahwa jika output minyak Rusia dan Timur Tengah tetap berada pada levelnya saat ini untuk jangka waktu yang lebih lama, maka pasar bisa terstabilisasi. Ini dikarenakan produksi minyak AS telah mulai bertumbangan dan ada sinyal pertumbuhan permintaan.

Para analis dari lembaga riset Bernstein sebelumnya dilaporkan menyatakan bahwa permintaan minyak dunia diperkirakan akan bertumbuh dalam rerata tahunan 1.4 persen antara tahun 2016-2020, lebih tinggi dari pertumbuhan 1.1 persen selama satu dekade terakhir. Jika itu terjadi, maka permintaan minyak dunia akan mencapai 101.1 juta bph pada 2020, lebih tinggi dari 94.6 bph saat ini. Lebih lanjut, mereka juga memprediksi permintaan minyak dunia akan memuncak di sekitar tahun 2030an.